Misnomer: The X-Girl Picayune

The life (or is it the lack thereof?) stories of a twenty-6-year-old grad student
Saturday, January 01, 2005
 

Hari pertama Januari 2005

...satu keluarga bicara hati ke hati dengan Alda. Mama, aku, Ucok, Yada, minus Pap a karena dia lagi tidur siang.

"Kamu maunya apa, Dek?" kataku. "Di antara orang yang serius lulus sekolah saja banyak yang kehidupannya tetap susah, apalagi yang main-main kayak gini."

"Orang maunya berangkat ke sana, Kak..."
Yang lain keburu menyanggah, "Tapi usahanya mana?"
"Iya, orang berusaha siang malam 4 bulan ke depan ini, hari Sabtu aja pergi makan keluar"
"Apa? Hari Sabtu aja main keluar?", Yada nanya dengan matanya membelok.

"Ah, biar saja dia begitu. Tidak usah kalian marah-marahin dia. Sudah dari tahun 2000 kubilang, biar saja ada satu yang jadi telor busuk." seru Papa terbangun dari tidurnya.

Alda, anak bungsu keluarga. Dari TK emang udah keliatan beda dari tiga kakak-kakaknya yang kalem (kayak lembu juga) patuh ini. Dia itu yang paling pinter sebenernya, cuman itu, sindrom males-nya sudah kronik sekali.

Perbincangan sore itu diakhiri dengan dimulainya Alda membahas soal-soal Matematika untuk ujian Cawu-nya. Mudah-mudahan bukan tanda pertobatan semu.



Comments:
andainya memang si bungsu itu beda sendiri, mungkin bisa dirangkul dengan cara menerima perbedaan itu... orang makin pinter, makin kronis lho malesnya... mungkin dia punya minat yang beda, dengerin aja dia maunya apa... kalo nggak destruktif kan nggak papa... jangan dibilang telur busuk ah, bisa jadi dia telur paskah yang sangat spesial... :)
 
Sudah Jeng, sudah dicoba dirangkul dari minatnya dia. Tapi dia juga nggak terlalu serius di situ. Arrgghhh...
 
Post a Comment

<< Home

Previously on Misnomer

Cliques and such

This page is powered by Blogger. Isn't yours?