
Bapak saya genap berusia 52 tahun tanggal 29 Juli ini. Sebelum saya & adik-adik sempat mengucapkan selamat ulang tahun, jam 9 WIB tadi Bapak saya di e-mailnya bilang
Hello,
Hari ini papa genap 52 tahun besok udah masuk jalan 53 ha ha ha ha ha ha
papa
Lalu kita sempat ngobrol-ngobrol di MSN. Waktu saya tanya, "bgmn perasaan jalan 53 pa?" Dia tidak langsung menjawab, malah menanyakan kabar kami bertiga di sini. Dasar ganjen. Tapi akhirnya dia bilang begini
Perasaan biasa saja jalan 53 mungkin kalau jalan 60 baru ada agak lain sekarang masih biasa saja
Jawaban yang tepat. Kalo saya menanyakan hal yang sama ke Ibu, dia pasti bilang, "Ah, X, Mama kok udah kepengen gendong cucu, ya". *geplak si Mama*
OK, mungkin baiknya cerita lebih dikit tentang latar belakang Bapak saya. Beliau adalah anak pertama dari (kalo nggak salah) 9 bersaudara. Ompung Doli** saya terakhir bertugas sebagai Camat di sebuah daerah yang indah di Sumatra Utara. Bapak saya sendiri lahirnya di Pematang Tanah Jawa dan melewatkan hari-hari kecil & remajanya di sebuah perkebunan. Itulah sebabnya dia fasih berbahasa Jawa (kayaknya bisa kromo juga sedikit) dan bisa sedikit baca Al-Quran.
Setelah menamatkan STM-nya di Porsea dan Balige, Bapak saya memutuskan untuk merantau ke suatu daerah penghasil minyak di Sumatra tengah. Dia mulai benar-benar dari nol. Diantara pekerjaannya waktu itu adalah memompa sebuah
septic tank yang tersumbat di kediaman satu keluarga asing (kebanyakan pake kertas, sih) di kompleks perumahan perusahaan minyak itu. Katanya waktu itu, dia hampir saja memutuskan untuk berhenti dari perusahaan itu, "Bapak awak Camat, masak pula, awak di sini menguras-nguras t**k orang". Ha ha ha.
Tapi akhirnya berkat kegigihannya, Bapak saya lumayan menanjak karirnya, walopun tidak terlalu tinggi-tinggi amat, setiap posisi yang ditawarkan selalu didampingi dengan sesuatu yang menantang. Dia seorang pekerja keras, selama beberapa tahun, saya selalu mendengar Bapak pulang dari kantor jam 2 pagi dan siap bekerja lagi 5 jam kemudian.
Setelah adik-adiknya (dan adik-adik Ibu saya) berhasil disekolahkannya, Bapak saya juga mulai meneruskan pendidikannya, sampai akhirnya dia mendapatkan gelar MBA dengan predikat
Cum Laude. Saya ingat, dia pernah bilang ke adik saya, dia tidak akan menyalami saya untuk kelulusan sebelum saya mencapai gelar Master. Ada-ada saja.
Bapak saya tidak pernah minta oleh-oleh barang, cuma sekali minta dibawain bisa 5 buku sekaligus. Perpustakaan Bapak saya itu cukup lengkap. Dulu waktu kita berempat liburan sekolah, kita tidak pernah kehabisan bahan bacaan. Sampai adik saya yang paling kecil sempat bercita-cita menjadi penemu, setelah menemukan biografi Copernicus di sana.
Bapak saya boleh dibilang laki-laki Reinasans, dia bisa melakukan apa saja secara sempurna. Mulai dari semua yang berbau kerajinan, pertukangan, permobilan, kesenian, peternakan, dan pengetahuan-pengetahuan ilmiahnya. Dia juga seorang orator ulung, tidak sekali dua kali didaulat berpidato tanpa persiapan dan hasilnya selalu mencengangkan. Dia bisa bergaul dengan segala lapisan masyarakat dan latar belakang budaya dan bahasa. Karismatik dan humoris.
Saya berharap kesehatan Bapak saya tidak menurun drastis lagi. Beliau sudah dihinggapi
diabetes mellitus sejak 12 tahun yang lalu. Tahun 2003, dia terkena gejala stroke ringan akibat kecapaian menyupir pulang kampung tanpa istirahat.
Saya sampai saat ini belum juga bisa membalas semua kebaikannya.
Selamat Ulang Tahun, Papa.
**kakek