Grup riset kita kedatangan satu peneliti (
visiting profesor) dari Cina untuk satu tahun. Ibu peneliti ini usianya sekitar 40 tahunan dan men-dosen (bener nggak sih istilahnya) di salah satu universitas terbesar Cina yang letaknya deket-deket perbatasan Mongol, lupa namanya apa. Orangnya baik juga, keibuan, tapi agak males, yah itu juga kalo dibandingin dengan kita-kita yang bersedia diperbudak pagi, siang, malam, hehe. Nah, kalo dia mah cuek aja pulang jam 5 teng dan nggak balik lagi.
Jadi, dia, saya dan satu temen segrup harus bekerja sama untuk nyelesain satu projek dari pembimbing kita. Selain hambatan komunikasi antara saya dan dia, ada juga permasalahan mendasar yang baru saya sadari. Ternyata bekerjasama ama orang teori itu gampang gampang susah ya. Iya saya menganggap diri saya orang praktek. Pembimbing saya juga dalam memecahkan masalah kebanyakan melihat dari sudut praktikalnya daripada teoretikalnya, begitu juga dengan anggota grup riset yang lain.
Ya gitu deh, selama kurang lebih tiga jam saya harus berulang-ulang menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menguji kualitas transistor yang kita buat, dan dia agaknya masih kurang ngeh juga sampe saat ini. Aduh, Bo', kali faktor usia juga ya. Saya bisa maklumin sih, tapi saat ini kebetulan kadar hormon saya lagi tidak seimbang. Ditambah lagi dengan saya yang kepepet waktu untuk menyelesaikan tes-tes untuk transistor ini dalam dua hari. Uh, bener-bener siang yang tidak mengenakkan jiwa. Untung saya inget, entar kalo balik makan malam, masih ada Cap Cay dan Telur Balado masakannya Ndoro Yadda, jadi sedikit terhibur. Makasih Ndoro Yadd!